Dreams are renewable. No matter what our age or condition.

-Qimminas-

Google+ Followers

Google+ Badge

Bagasi Kiriman Popular

Terjemah

Friday, October 22, 2010

Kumpulan Metal Ajak Penonton Konsert SOLAT Berjemaah



Latar/suasana muzik "underground" Indonesia kini tidak lagi hanya berunsurkan "kegelapan", namun sudah ada "cahaya" yang meneranginya. Cahaya yang dimaksudkan itu ialah sekelompok pemuzik metal yang melabelkan diri mereka sebagai Metal Muslim.


Mengapa mereka menggelarkan diri sebagai Metal Muslim? Hal ini demikian kerana lagu berat yang didendangkan oleh mereka di gig atau di konsert tidak menyeru manusia berbuat kejahatan, jauh sekali bersekongkol dengan iblis atau syaitan. Lirik lagu kumpulan ini membawa mesej ketuhanan, anti-Zionis, membebaskan Palestine, dakwah, dan sebagainya.

Antara kumpulan rock/metal yang tergolong dalam kelompok Metal Muslim ini termasuklah Tengkorak, Purgatory, Punk Muslim, Inner Beauty, The Roots of Madinah, AfterMath, Keep it True, Stranded, Qishash, Salameh Hamzah, dan Barat Hijau Indonesia. Kesemua kumpulan ini mengetengahkan lirik yang berunsurkan ketuhanan dan mengajak muda-mudi mendekati agama dan menjauhi perkara yang dilarang oleh agama.



Terkini, kelompok pemain muzik berat ini menjayakan suatu siri konsert jelajah yang diberi nama Urban Garage Festival. Siri konsert ini bertujuan untuk mengutip dana bagi membantu rakyat Palestine. Yang menariknya, selain mendendangkan lagu yang mencerca Israel, Zionis, menyokong umat Islam di Palestine, kumpulan muzik ini berjaya mengajak penonton mendekati Tuhan secara langsung semasa menjayakan konsert tersebut. Penonton diajak menunaikan solat secara berjemaah setiap kali masuk waktu solat. Perkara yang tidak pernah berlaku dalam mana-mana konsert di negara ini (Betulkan saya jika saya salah!).


Sebuah blog ada memerihalkan secara ringkas tentang festival itu:
Satu hari penuh yang luar biasa ditanggal 16 Oktober 2010 ini ternyata bisa dilewati dengan udara cerah tanpa hujan sedikitpun. Urban Garage Festival bukan hanya menggambarkan sebuah tur musik keras saja, tapi didalamnya setiap penonton seperti diarahkan untuk bisa dewasa dan cerdas dalam menyikapi perbedaan warna music yang ada, dan jika kita melihat beragamnya warna music yang hadir bukan hanya metal, tapi juga punk rock, hardcore hingga ke hiphop bahkan seni teaterikal ala Insan Jalanan membaur menjadi satu.

Dan yang hebatnya lagi teraturnya para penonton dalam bekerja sama dengan panitia, terutama ketika waktu sholat secara berjamaah. Terlihat betapa ramainya masjid terdekat yang penuh dengan para pecinta music cadas yang tetap melakukan sholat tepat waktu.

Sukses selalu untuk Urban Garage Festival, dan menurut kabar yang kami terima bahwa untuk seri ketiga acara ini akan diadakan di kota Salatiga Jawa Tengah dalam waktu dekat...lagi di sini.

Sebuah lagi blog mengulas hal yang sama, menurut penulisnya:

Ketika Islam berfungsi sebagai kendali, banyak anak metal di komunitas underground menjemput hidayah. Mereka tidak menolak modernisasi, tapi menjegal westernisasi. Ada komitmen yang dibangun: No Drugs, No Alcohol, No Violence dan No Free sex. Just Metal.

Menjelang malam, anak-anak metal itu sudah berkumpul di pelataran Gedung Rossi Musik di Jalan Fatmawati No. 30, Jakarta Selatan untuk menyaksikan pagelaran musik sekaligus penggalangan dana untuk Palestina. Konser musik yang bertajuk ”Urban Garage Festival” itu diorganize oleh Berandalan Puritan dan Mogers Infantry.

Saat menanti band kesayangan mereka, azan Maghrib berkumandang. Siapa nyana, sebagian dari mereka berbondong-bondong menuju masjid, lalu segera membasuh wajah-wajah kumel itu dengan air wudhu. Sabili turut menyaksikan, anak-anak metal tengah merapikan shaftnya untuk shalat berjamaah. ”Sebagian dari mereka, anak-anak Mogers, sebuah komunitas fans band metal legendaris Purgatory,” kata salah seorang komunitas underground.

Performance mereka memang eksentrik dan tampak cuek. Sekilas, seperti individu yang tak mau tahu dengan urusan agama. Tapi, lihatlah paradigma baru anak Metal hari ini. Mereka mulai bangga menunjukkan jatidirinya sebagai Muslim sejati. Jangan ngaku anak metal, kalau nggak shalat. Jangan sok metal kalau masih suka mabok (ngedrugs) dan free sex. ”Menyedihkan banget, jika anak metal malu menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Karena gengsi, mau shalat saja, bilangnya mau ke depan untuk beli rokok,” tukas Bonty, salah seorang personil Purgatory.

Tak dipungkiri band metal lahir dari peradaban Barat yang bobrok. Peradaban itu memengaruhi jiwa anak-anak muda yang gelap. Mereka larut menjadi individu yang bingung menatap masa depan, tertipu oleh propaganda sesat kaum laknat, hingga menjadi pemuja setan, syahwat, anti kemapanan, bahkan mengabaikan Tuhan. Ketika hidayah Islam datang, pondasi itu terguncang. Anak-anak Metal yang terlahir sebagai Muslim, mulai menyadari, bahwa mereka secara kultur dan karakter sudah dijadikan ’hamba-hamba sahaya’ yang terjajah. Eksistensi tumbuh, ketika Islam menjadi ideologi, kesadaran baru dan amaliyah mereka....selanjutnya di sini.

Alhamdullilah! Saya kagum! Saya bangga! Saya teruja! Mudah-mudahan perkembangan yang berlaku di Indonesia itu "berjangkit" di sini.

Video Muzik:

Punk Muslim

Root of Madinah:

Tengkorak

Purgatory

0 comments:

Related Posts with Thumbnails